by

“Visa Progresif Dihapus, Tapi….”

Pemerintah kerajaan Arab Saudi resmi mencabut kebijakan visa progresif umrah melalui dekrit raja per awal September 2019. Namun kebijakan penghapusan visa progresif tersebut justru menerapkan tarif flat untuk seluruh calon jamaah pemohon visa umrah.

Penghapusan Kebijakan Melahirkan Kebijakan Baru

Pemerintah kerajaan Arab Saudi akhirnya memutuskan mencabut kebijakan visa progresif yang awalnya ditetapkan seharga 2.000 Riyal Arab Saudi (SAR). Kebijakan penghapusan visa progresif ini telah berlaku sejak 9 September 2019 setelah dekrit raja dikeluarkan. Keputusan penghapusan visa progresif ini justru menghasilkan peraturan kebijakan baru terkait visa umrah. Pemerintah kerajaan Arab Saudi resmi menerbitkan ketentuan baru biaya pengajuan visa umrah dengan goverment fee sebesar SAR 300. Biaya ini berlaku untuk setiap calon jamaah umrah yang mengajukan visa umrah baik untuk pertama kalinya melaksanakan umrah maupun selanjutnya.

Visa Progresif Dihapuskan, Tapi Visa Umrah Naik

Keputusan ini bermakna Arab Saudi mencabut aturan terkait visa progresif yang berlaku sejak tahun 2016. Sebelumnya jamaah yang berangkat umrah di tahun yang sama sebanyak lebih dari satu kali terkena kebijakan visa progresif. Penting diketahui bahwa kebijakan ini bukan mengurangi biaya visa progresif dari SAR 2000 menjadi SAR 300 seperti yang banyak diberitakan. Visa progresif memang dihapuskan, namun visa umrah untuk seluruh calon jamaah umrah yang pertama kali umrah dan atau selanjutnya naik. Belum lagi harus ditambah dengan biaya-biaya lainnya seperti biaya BRN Hotel dan bus 105 SAR, serta biaya elektronik visa 93,19 SAR. Jika dijumlah biaya-biaya tersebut menjadi 498,19 SAR, dan jika dirupiahkan sekitar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah). Namun Risalah Tour memiliki kebijakan untuk mensubsidi biaya tersebut sebesar Rp. 500.000. jadi bagi jama’ah yang mendaftar melalui Risalah Tour hanya dikenakan biaya tambahan visa sebesar Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah)

Upaya Wujudkan Saudi Vision 2030

Konsul Jendral RI di Jeddah, Mohamad Hery Saripudin mengkonfirmasi kabar ini seperti di lansir dari CNN. Mohamad mengatakan bahwa kebijakan pemerintah kerajaan Arab Saudi ini sebagai upaya Arab Saudi untuk mewujudkan Saudi Vision 2030. Salah satu target dari visi tersebut adalah menaikkan jumlah jamaah umrah yang datang hingga mencapai 30 juta jamaah pada tahun 2030. Tahun 1440 Hijriyah lalu jumlah jamaah umrah yang datang sekitar 8 juta jamaah. Tahun 1441 Hijriyah ini ditargetkan naik menjadi 10 juta jamaah umrah yang datang. Pemerintah kerajaan Arab Saudi jelas ingin mendiversifikasi ekonominya bukan hanya dari minyak saja. Kini Arab Saudi giat mengejar pemasukan dari pajak, manufaktur, dan jasa layanan (services). Umrah adalah salah satu sektor ekonomi bidang services. Jadi Sobat Rihaal jangan kaget ya dengan kenaikan visa umrah. Seluruh biro umrah di Indonesia tentu akan mengikuti kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi.

Ingin Umroh saat liburan sekolah nanti ? Silahkan Hubungi kami disini

Comment

News Feed